Saturday, July 5, 2014

Masalah-Masalah Pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang

ilustrasi pembangunan jalan tol Semarang-Solo tahap 1
Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi yang baik dan stabil dalam beberapa tahun terakhir melakukan pembangunan di berbagai daerah. Pembangunan memang tidak bisa ditolak kehadirannya, karena pembangunan dan pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang selama ini diperjuangkan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.  

Pertumbuhan ekonomi memaksa aktifitas produksi, distribusi, dan konsumsi semakin meningkat. Meningkatnya aktifitas tersebut membuat kebutuhan jalan sebagai sarana distribusi juga meningkat. Mobilitas penduduk pun mengalami hal yang sama dimana masyarakat saat ini sangat mudah untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Dengan pertumbuhan ekonomi tadi maka mobilitas masyarakat semakin meningkat karena pendapatan masyarakat juga meningkat. 

Atas dasar itulah maka pemerintah membangun jalan tol sebagai salah satu solusi memberi akses transportasi darat yang aman dan lancar. Pembangunan jalan tol ini juga untuk mendukung pembangunan ekonomi dan melancarkan mobilitas barang, jasa, dan manusia untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Salah satu jalan tol yang dibangun pemerintah adalah jalan tol Semarang-Batang. Jalan tol ini rencananya akan dibangun dalam lima seksi yakni seksi pertama sepanjang 3,2 kilometer. Seksi II 36,3 km, Seksi III 11,0 km, Seksi IV 13,5 km, dan Seksi V sepanjang 10,9 km. Sedangka kebutuhan anggaran untuk pembangunan jalan tol Semarang-Batang mencapai sekitar Rp 7,21 triliun untuk kegiatan konstruksi dengan total biaya pembebasan lahan senilai Rp 836 miliar. 

Sebanyak 51 desa/kelurahan akan dilalui Jalan Tol Semarang-Batang. Desa/ kelurahan itu berada di tiga kabupaten/kota, yakni Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, dan Kota Semarang. Jumlah desa terbanyak yang terkena proyek berada di Kabupaten Kendal, yakni 22 desa di delapan kecamatan. Kemudian Kabupaten Batang, 23 desa di lima kecamatan, dan Kota Semarang, enam wilayah kelurahan di satu kecamatan.  

Dalam pelaksanaannya, proyek jalan tol ini ternyata mengalami masalah-masalah yang membuat pembangunannya sering terhambat bahkan terhenti. Masalah yang mengganggu pembangunan jalan tol ini adalah:

1.Investor yang sering berubah
Pembangunan jalan tol ini sempat terhenti karena mundurnya pemegang saham mayoritas konsorsium PT. Marga Setapuritama, yakni PT. Bakrie Toll Road. Disinyalir mundurnya PT. Bakrie Toll Road ini karena saat penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) pada 2006, ruas tol Batang-Semarang membutuhkan investasi sebesar Rp 3,6 triliun. Namun, berdasarkan evaluasi kementerian pada 2010 lalu, biaya membengkak hingga Rp 7,22 triliun.

2.Kondisi keuangan investor
Mundurnya bakrie toll road membuat kemampuan modal investor berkurang dan tidak bisa melakukan kegiatan pembangunan karena tidak tersedianya anggaran.

3.Pembebasan tanah
Akibat dari tidak adanya anggaran itu maka pembebasan tanah proyek ini terhenti dan Tim Pembebasan Tanah (TPT) juga dibubarkan, dan mengalami kemunduran jadwal. Padahal tanah yang harus dibebaskan untuk proyek senilai Rp 7,22 triliun itu mencapai 666,67 hektare, sementara yang sudah bebas baru mencapai 3,3%. Artinya total luas tanah yang sudah dibebaskan baru sebesar 22 hektare.

Atas dasar permasalahan itulah maka melalui tulisan ini ingin mengetahui mengapa permasalahan ini terjadi dengan menggunakan pendekatan jaringan. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat ditemukan siapa saja aktor-aktor yang terlibat, keunggulan dan kekurangan masing-masing aktor, penentuan aktor yang paling berpengaruh, jenis pendekatan network yang digunakan, dan solusi pendekatan network yang cocok untuk mengatasi masalah pembangunan jalan tol Semarang-Batang.


Baca juga:
1. Aktor-aktor Pembangunan Jalan tol Semarang-Batang
2. Faktor Penghambat dan Pendukung Pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang
3. aktor yang berpengaruh
4. jenis network yang digunakan
5. Solusi Pembangunan Jalan Tol Semarang-Batang
6. manajemen networking


No comments:

Post a Comment